Kota Makkah Banjir, Jakarta Gempa Bumi dan Maksiat Dimana-mana, Astagfirullahal Adzim! Mohon Disebarkan

Secara khusus, Allah SWT menerangkan bahwa kerusakan di darat dan laut itu akibat ulah jahat manusia. Bahkan polusi udara yang terjadi itu juga akibat ulah manusia.

Allah SWT berfirman yang artinya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah SWT memberikan pelajaran kepada mereka atas sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar.” (QS. Al-Rum (30:41).

Banjir dan gempa yang terjadi dimana-mana, bahkan Jakarta sering menjadi langganan banjir meskipun ganti gubernur sampai 100 kali.

Langganan banjir yang terjadi di Jakarta, itu karena memang ulah sebagian masyarakat yang tidak taat terhadap aturan, seperti contohnya membuang sampah sembarangan.

Juga, jangan lupa, tata kelola kota Jakarta kadang kurang bagus, sehingga saluran airnya tidak mampu menampung debit air yang besar.

Nah di sinilah diperlukan kinerja Gubernur yang cekatan, cerdas, dan giat bekerja untuk masyarakat. Siapa-pun Gubernur di Jakarta, sudah pasti nasibnya akan terus bergelut dengan banjir dan kemacetan.

Nah, dulu ketika terjadi tsunami Aceh Ada yang berkata “soalnya, orang Aceh banyak maksiat dan tidak beribadah kepada Allah SWT”. Ketika terjadi gempa di Yogyakarta. Lagi-lagi alasan yang dikemukakan sama.

Teringat sebuah kisah menarik seputar Banjir di Kota Makkah di masa Kholifah Umar Ibn Al-Khattab ra. Waktu itu terjadi Banjir yang sangat dashyat. Sehingga maqam Ibrahim terbawa banjir hingga ke kawasan Misfalah. Kemudian Umar Ibn Al-Khattab bermusyawah dengan para sahabat untuk meletakkan kembali maqam Ibarhim pada tempatnya.

Umar Ibn Al-Khattab lalu memutuskan meletakkan maqam Ibrahim pada tempat yang sekarang ini. Padahal, sebelumnya tempatnya sangat dekat (mepet) Baitullah.

Kondisi banjir pada masa Umar Ibn A-Khattab sangat dashyat dan menakutkan. Jangan kemudian berkata “banjir itu datang karena banyak maksiat di Makkah”.

Ingat, pada waktu itu sebagian besar yang bermukim di Makkah dan Madinah adalah sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia. Mereka adalah orang-orang yang mendapat jaminan surga Allah SWT.

Makkah berkali-kali Banjir, sehingga sumur zam-zam tercampur dengan lumpur. Sampai sekarang-pun kadang masih banjir jika curah hujan tinggi. Sebagian penduduk Makkah ada yang tidak mau minum zam-zam, mereka mengatakan “air zam-zam pernah tercampur dengan lumpur dan kotoran ketika banjir di Masjidilharam”.

Namun Syekh Abdul Fattah Rowah menjelasakan dengan sejelas-sejelasanya seputar ke-ajaiban air zam-zam, bahwa air zam-zam itu tidak akan menyatu dengan air biasa walaupun kelihatanya menyatu, ibarat air dan minyak.

Terkait Gempa, memang ada sebuah kisah menarik seputar gempa yang terjadi di Madinah. Dimana Umar Ibn Al-Khattab ra, menerangkan bahwa itu merupakan teguran kepada manusia yang berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah SWT. dengan teguran itu, diharapkan manusia kembali mengingat Allah SWT.

Tidak dipungkiri, setiap kejadian itu tidak lepas dari sebab musababnya. Gempa yang terjadi di Jakarta dan Jawa Barat bisa jadi memang karena teguran Allah kepada umat manusia, khususnya teguran bagi sebagian masyarakat Jawa Barat yang enggan beribadah, enggan zakat, enggan juga saling menyapa.

Bisa juga itu teguran kepada para tokoh agama yang kadang lebih suka saling menyalahkan dari pada mengajak dan menuntun umat ke jalan yang benar.

Intinya, apa yang terjadi merupakan muhasabah diri bagi manusia. Semua orang bebas berpendapat apa saja di era demokrasi ini. Yang tidak boleh itu menuduh orang lain lebih buruk dari pada dirinya, dan menganggap apa yang dilakukan lebih baik dari pada orang lain. Semua harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa Allah SWT maha kuasa atas segalanya. Allah SWT bisa saja melakukan apa saja, dimana saja dan kapan saja, karena Allah SWT MAHA KUASA atas alam semesta.

Kewajiban manusia itu, saling menasehati dalam kebaikan, bukan saling bermusuhan dan justifikasi. Di dalam sebuah hadits yang diterangkan dalam Kitab Al-Wafi Syarah Arbain Al-Nawawi diterangkan

“Di ibaratkan, orang baik dan buruk dalam satu perahu. Orang baik ada di lantai atas. Sementara orang jahat (ahli maksiat dan kaum durhaka kepada Allah SWT) di lantai bawah. Ketika orang jahat yang lantai bawah merusak, melakukan apa saja. Mereka yang dilantai atas terdiam, dan justru memusuhinya. Maka mereka yang dibawah semakin merajalela.

Bahkan penumpang yang berada di lantai atas, sebagian ada mengatakan “silahkan saja melakukan apa saja yang mereka mau, yang penting saya tidak ikut-ikutan dan tidak bertanggung jawab”.

Sampai suatu ketika perahunya bocor dan rusak. Maka, airnya ikut masuk dalam perahu. Sehingga yang baik-pun ahirnya ikut tenggelam karena tidak pernah menasehati penumpang yang berada di lantai bawah.

Gempa Indonesia Tadi Malam Akibat Putusan MK Terkait LGBT?

Hanya berselang satu hari usai Mahkamah Konstitusi (MK) menolak mengadili gugatan agar Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bisa dipidana, gempa bumi berpotensi tsunami terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (15/12) tengah malam). Warganet pun mengaitkan kedua peristiwa tersebut.

Dalam status facebook Johan Khan, tertulis:

Gempa terasa sampai Jakarta. Kaum Sekuler tentunya menolak dikait-kaitkan dengan Putusan MK.

Gempa kali ini berskala besar. BMKG mencatat memiliki kekuatan 7,3 skala richter dan berpotensi menimbulkan tsunami. BMKG merilis lokasi yang rawan terjadinya tsunami. Di antaranya, Ciamis dan Tasikmalaya status siaga tsunami. Bantul dan Kulonprogo Yogyakarta juga berpotensi tsunami dengan status waspada.

BMKG juga mengeluarkan status waspada tsunami di Cianjur-Sindangbarang, Garut, Sukabumi ujung genteng. Begitu pula di Cilacap dan Kebumen berstatus waspada tsunami.

Satu hari sebelumnya, Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak permohonan memperluas pasal perzinahan di KUHP. Putusan MK dihasilkan lewat ‘dissenting opinion’ dengan komposisi 5:4.

“Amar putusan mengadili menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya,” kata Ketua MK, Arief Hidayat di persidangan , Kamis (14/2).

Gempa Untuk Kaum Nabi Luth

Gempa mengakibatkan letusan lava serta semburan gas metana dan berakhir dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati.

Salah satu azab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Alquran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diazab Allah karena melakukan praktik homoseksual. Menurut kitab Perjanjian Lama, kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sodom sehingga praktik homoseksual saat ini kerap disebut juga sodomi.

Penelitian arkeologis mendapatkan keterangan, Kota Sodom semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir balik masuk ke dalam Laut Mati.

Layaknya orang jungkir balik atau terguling, kerap bagian kepala jatuh duluan, lalu diikuti badan dan kaki. Begitu pula Kota Sodom, saat runtuh dan terjungkal, bagian atas kota itu duluan yang terjun ke dalam laut, sebagaimana Allah kisahkan dalam Alquran, ”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Surat Huud [11]: ayat 82)

Hasil penelitian ilmiah kontemporer menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat Kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah. Patahan itu berawal dari tepi Gunung Taurus, memanjang ke pantai selatan Laut Mati dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, hingga berakhir di Afrika.

Biasanya, bila dua lempengan kerak bumi ini bergeser di daerah patahan, akan menimbulkan gempa bumi dahsyat yang diikuti dengan tsunami (gelombang laut yang sangat besar) yang menyapu kawasan pesisir pantai. Juga, biasa diikuti dengan letusan lava/lahar panas dari perut bumi.

Hal seperti itu pula yang terjadi pada Kota Sodom, sebagaimana diungkap peneliti Jerman, Werner Keller, “Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis melewati daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman (Laut Mati). Kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan petir, keluarnya gas alam, serta lautan api. Pergeseran patahan membangkitkan tenaga vulkanis (berupa gempa) yang telah lama tertidur sepanjang patahan.”

Dengan keterangan ilmiah tersebut, dapat direkonstruksi kembali bagaimana azab Allah itu menimpa umat Nabi Luth yang ingkar kepada-Nya. Bencana itu didahului dengan sebuah gempa yang menyebabkan tanah menjadi merekah.

Dari rekahan itu, muncul semburan lahar panas yang menghujani penduduk Kota Sodom. Di bawah pesisir Laut Mati, juga terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung gas metana yang mudah terbakar.

Kemungkinan besar, letusan lava serta semburan gas metana itulah yang Allah maksudkan dalam Alquran dengan hujan batu dari tanah yang terbakar. Bencana itu diakhiri dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati.

Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum Luth di laboratorium, lalu mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk, lalu terbenam di dalamnya.

Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini mengungkap satu kenyataan penting bahwa kaum Luth yang disebutkan Alquran memang pernah hidup pada masa lalu, kemudian mereka punah diazab Allah akibat kebejatan moral mereka. Semua bukti terjadinya bencana itu kini telah terungkap dan benar sesuai dengan pemaparan Alquran.

Kembali pada Allah Sebab Terlepas dari Musibah

Belajar dari berbagai kisah diatas maka sudah sepatutnya bagi setiap kaum muslimin yang telah dibebani syari’at dan kaum muslimin lainnya, agar bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, konsisten di atas agama, serta menjauhi larangan Allah yaitu kesyirikan dan maksiat. Sehingga dengan demikian, mereka akan selamat dari seluruh bahaya di dunia maupun di akhirat. Allah pun akan menghindarkan dari mereka berbagai adzab, dan menganugrahkan kepada mereka berbagai kebaikan. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)

Allah Ta’ala pun mengatakan tentang Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani),

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al-Maidah: 66)

Allah Ta’ala berfirman,

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf : 97-99)

Al ‘Allaamah Ibnul Qayyim –rahimahullah- mengatakan,

“Pada sebagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan izin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Akhirnya, muncullah rasa takut yang mencekam pada hamba-hamba Allah. Ini semua sebagai peringatan agar mereka bersegera bertaubat, berhenti dari berbuat maksiat, tunduk kepada Allah dan menyesal atas dosa-dosa yang selama ini diperbuat.”

‘Umar bin Khatthab -radhiyallahu ’anhu-, pasca gemba di Madinah langsung menyampaikan khutbah dan wejangan. ‘Umar -radhiyallahu ’anhu- mengatakan, ”Jika terjadi gempa lagi, janganlah kalian tinggal di kota ini”. Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah-. Para salaf memiliki perkataan yang banyak mengenai kejadian semacam ini.

Bersegera Bertaubat dan Memohon Ampun pada Allah

Saat terjadi gempa atau bencana lain seperti gerhana, angin ribut dan banjir, hendaklah setiap orang bersegera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, merendahkan diri kepada-Nya dan memohon keselamatan dari-Nya, memperbanyak dzikir dan istighfar (memohon ampunan pada Allah).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana bersabda, “Jika kalian melihat gerhana, maka bersegeralah berdzikir kepada Allah, memperbanyak do’a dan bacaan istighfar.” [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Jumu’ah]

Dianjurkan Memperbanyak Sedekah dan Menolong Fakir Miskin

Begitu pula ketika terjadi musibah semacam itu, dianjurkan untuk menyayangi fakir miskin dan memberi sedekah kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا

“Sayangilah (saudara kalian), maka kalian akan disayangi.” [HR. Ahmad]

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang di muka bumi, kalian pasti akan disayangi oleh Allah yang berada di atas langit” [Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Al Birr wash Shilah]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang.” [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Adabul Mufrod]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul Aziz –rahimahullah- bahwasanya saat terjadi gempa, beliau menulis surat kepada pemerintahan daerah bawahannya agar memperbanyak shadaqah.

Semoga bisa menjadi pelajaran yang amat berharga untuk kita bersama, Aamin aamin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *