Gila! Nekat Panjat Gunung Agung yang Berstatus Awas, Pria Ini Viral

 

Seperti sudah diketahui bersama, Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali sudah ditetapkan dalam level IV atau status Awas sejak 22 September 2017. Hingga saat ini aktivitas gempa vulkanik masih terhitung tinggi sehingga status Gunung Agung masih dalam pengawasan ketat oleh PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM. Jelas kondisi ini tidak memungkinkan untuk diadakan pendakian; jangankan pendaki, warga saja sudah diungsikan sejak status Gunung Agung ditingkatkan.

Namun, belum lama ini seorang pengguna Facebook dengan nama Mangku Mokoh menggemparkan sosial media. Pria ini mengaku mendaki Gunung Agung meskipun gunung vulkanik tersebut telah berstatus Awas. Pengakuannya dilengkapi video dan foto yang spontan jadi viral di dunia maya.

Mangku Mokoh mengaku telah dua kali naik ke puncak Gunung Agung meski telah berstatus Awas.

Mohon maaf kepada semua warga Karangasem kalau saya nekat naik ke Puncak Gunung Agung dua kali dalam keaadan Gunung Agung yg sudah level 4 kata #BMKG

Ini bukan pertama kalinya Mangku Mokoh mendaki Gunung Agung yang sedang aktif ini. Pada 29 September, ia juga mengunggah dokumentasi perjalanannya bersama dua orang lain, salah satunya seorang pendeta. Pada 30 September, Mangku Mokoh kembali mendaki dan menunjukkan hasil perjalanannya ke sosial media.

Karena saya belum yakin bahwa Gunung Agung akan meletus, jika anda percaya dengan video ini harap di-share, jika anda tidak percaya tolong cari saya di Pura Pejinengan, Gunung Tapsai, Karangasem.

 

Sumber – hype.idntimes.com


AMLAPURA, BALIPOST.com – Di dalam tubuh Gunung Agung sudah terjadi zona-zona kehancuran yang disebabkan oleh gempa-gempa yang terjadi selama ini. Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Devy Kamil Syahbana, Minggu (1/10), hal ini mengindikasi terjadinya letusan semakin tinggi dibanding indikasi tidak terjadinya letusan. Sebab, lempengan yang ada di dalam perut gunung semakin menipis.

Devy Syahbana mengatakan tekanan energi yang ada di dalam kawah masih cukup tinggi. Jika energinya kecil tidak mungkin akan terjadi gempa-gempa.

Karena gempa yang terjadi disebabkan adanya kelebihan tekanan energi yang masih kuat di bawah. “Kalau enernginya kecil tidak mungkin akan menghasilkan gempa. Ini menandakan energi di bawah masih tinggi. Karena gempa-gempa yang terjadi akibat kelebihan tekanan energi,” terang Devy Syahbana.

Devy Syahbana menambahkan, lempengan yang sebelumnya berada di bawah kini mulai naik ke atas akibat lempengan mulai pecah. Ini disebabkan magma yang ada di dalam ingin menerobos ke atas, namun tidak bisa karena lempengan yang menghalagi masih cukup kuat. “Zona kehancuran lempeng di tubuh gunung sudah cukup banyak. Itu dibuktikan dari pengukuran kecepatan rambat gelombang di bawah menurun. Ini menandakan kalau di bawah gunung memang sudah terjadi kehancuran,” tegasnya.

Dia menjelaskan, meskipun sudah ada gas yang keluar melalui rekahan-rekahan bersama dengan asap atau solfatara, akan tetapi itu tidak menjamin energi yang ada di dalam semakin berkurang. Itu tergantung gas yang dikeluarkan dan gas yang diproduksi di dalam kawah.

Baca juga: Hadapi Tekanan Besar, Fungsi Hutan di Bali Berkurang 600 Ha Per Tahun
Karena magma bergerak masif, jadi untuk bisa menerobos ke atas, magma mencari tempat yang labil atau celah mana yang bisa dilalui untuk bisa keluar. Dijelaskan, berdasarkan estimasi di bawah gunung sudah terjadi sekitar 15 juta meter kubik magma yang bergerak yang menghasilkan gempa-gempa yang terjadi selama ini. “Magma itu hanya menghasilkan gempa saja. Bukan keseluruhan magma. Kalau keseluruhannya bisa lebih dari itu,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, setelah selama ini lempengan yang ada di dalam terus dibombardir oleh energi magma akhirnya menimbulkan terjadinya rekahan-rekahan di dasar kawah. Maka dari itu, munculan asap atau solfatara dari kawah.

Dia juga menjelaskan bukan berarti tidak adanya gempa terasa dan tidak ada lagi asap yang muncul menandakan sudah aman justru harus was-was. Sebab, energi yang dihasilkan tidak keluar dan mengumpul di dalam. Sehingga energi yang dikumpul semakin besar. “Kalau lempengan yang mau dihancurkan sudah tidak ada, apa lagi yang mau dihancurkan. Itu yang membuat tidak lagi muncul gempa-gempa terasa. Tapi gempa vulkanik tetap terjadi di dalam terus terjadi. Bahkan jumlahnya masih tinggi. Inilah yang membuat lempengan di dalam sudah semakin tipis. Ini yang mengindikasi terjadinya letusan semakin besar,” tegas Devy Syahbana

 

Sumber – balipost.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *