Kisah Firaun Yang Ramai Tak Tahu Kezaliman nya Pada Zaman Pemerintahan dahulu

Fir’aun adalah lelaki yang diabadikan dalam al-Qur’an. Karena kezhalimannya yang sangat besar—hingga mengaku tuhan—akhirnya ia ditenggelamkan Allah. Tak cukup hanya itu, mayatnya juga menjadi awet sampai sekarang dan menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya. Ada pelajaran kepada manusia sesudahnya agar: jangan sombong dan mengaku tuhan!

Fir’aun sebenarnya sudah terkalahkan ketika pada sebuah acara besar, tukang sihirnya kalah dengan Nabi Musa. Saat itu tali temali para penyihir dilahap begitu saja oleh sebuah tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar. Saat itu sudah nyata bahwa Musa itulah yang benar. Ia sendiri, tapi bisa mengalahkan kekuatan para penyihir—bahkan lebih senior/tua dari Musa.

Dalam debat juga begitu. Fir’aun sudah kalah. Tapi ia tetap mempertahankan arogansinya bahwa dia adalah Tuhan. Akhirnya, karena ia memilih menjadi lelaki yang “kepala batu”, akhirnya kehancuranlah yang menjadi akhir hayatnya.
Saat dia mengejar Nabi Musa dan Bani Israil hingga di tepian Laut Merah, waktu itu Fir’aun terheran. Ia heran terhadap lautan yang terbelah itu. Tapi kemudian ia menerobos juga masuk ke dasar laut yang kering itu. Sebagian ahli tafsir, ada yang menyebutkan sebuah kabar israiliyyat (riwayat ahli kitab/Bani Israil) yang menurut Dr. A’idh al-Qarni kabar itu “boleh saja kita jadikan sebagai pelajaran karena ia tidak bertentangan dengan teks asli yang ada pada kita, namun hanya sebagai kabar.”

Riwayat yang manakah? Ini tentang kenapa Fir’aun sampai menerobos masuk ke lautan mengejar Nabi Musa dan Bani Israil. Kita kutip saja dari tulisan al-Qarni dalam bukunya Manusia Langit Manusia Bumi, sebagai berikut,

“Para ahli tafsir berkata, saat itu kuda milik Fir’aun melihat seekor bighal betina di laut. Ada yang mengatakan kalau bighal betina itu adalah bighal yang dikendarai oleh Jibril. Kuda itu sangat berhasrat kepada bighal betina ini, karena jika kuda melihat bighal betina, hasratnya akan bangkit dan bergejolak.
Kuda itu merangsek masuk ke laut bersama Fir’aun, sehingga bala tentaranya pun mengikutinya. Setelah mereka semua masuk dan berada di tengah-tengah laut, mereka menjadi kalut, kacau, dan guncang. Akhirnya, mereka semua terbunuh, sebagai balasan yang sangat setimpal bagi mereka.”

Mengikut pada kabar ini, dapatlah kita bayangkan bagaimana kencangnya lari sang kuda. Sudah jamak kita kenal bahwa kuda itu larinya kuat dan kencang, sampai-sampai merk mobil juga ada yang bernama “kuda.” Apalagi kalau si kuda yang dikendarai oleh Fir’aun itu sedang berhasrat besar kepada bighal di depannya, maka pastilah ia berlari kencang sampai masuk ke dasar lautan yang kering itu. Akhirnya, berakhirlah napas si raja diktator dari Mesir itu.

“Laut pun menyemburkannya dalam keadaan bangkai mayat yang tak lagi bernyawa, agar menjadi pelajaran bagi orang yang setelahnya, dan agar mereka mengetahui bahwa dia adalah seorang manusia yang lemah dan hina, dan tidak pantas menjadikan dirinya sebagai raja, apalagi sebagai tuhan yang disembah.” Demikian, tulis al-Qarni.
Sebelum raja zalim itu mati, ternyata ia baru mau beriman. Tapi keimanan itu sudah telat. Keinginannya untuk beriman saat sekarat itu diabadikan Allah dalam surat Yunus ayat 90,

 

ءَامَنتُ أَنَّهُ لآأِلَهَ إِلاَّ الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُوا إِسْرَاءِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
Akan tetapi, taubatnya itu sudah sangat terlambat. Saat sekarat baru dia tersadarkan. Itu tidak diterima di sisi Allah. Allah berfirman,
ءَآلْئَانَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

 

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 91)

Akhirnya, tubuh lelaki itu tidak dihancurkan oleh Allah. Tubuhnya itu diselamatkan Allah agar ia menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya—termasuk kita sekarang—agar tidak berlaku zhalim seperti itu. Karena akibat dari kezhaliman adalah penyesalan dan siksa yang pedih dari Allah. Tentu, kita berdo’a agar terlindung dari itu semua.
Allah swt., mengabadikan diawetkannya tubuh Fir’aun dalam firman-Nya ayat ke-92 surat Yunus,

 

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ ءَايَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.
Apa yang bisa kita petik dari lelaki arogan yang ditimpa musibah tertutupnya air lautan tersebut?

Yang pertama, pemimpin yang zhalim itu menyengsarakan. Kasus Fir’aun itu membuktikan bahwa orang yang tidak tahu agama itu buat rakyat sengsara. Berapa banyak anak laki-laki yang dibunuh oleh Fir’aun. Berapa banyak juga orang tak berdosa yang dibunuh begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ini menjadi pelajaran agar kita berhati-hati dalam memilih pemimpin.

Yang kedua, pemimpin zhalim itu akan dihinakan. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat ia akan dihinakan oleh Allah. Di dunia, pemimpin seperti Fir’aun telah dihinakan oleh Allah. Tipu dayanya semuanya jadi “mentah” ketika ia tenggelam. Ia bilang bahwa dirinya adalah tuhan, tapi tak bisa ia menyelamatkan dirinya sendiri dari lautan.
Fir’aun merupakan tokoh yang menjadi musibah bagi rakyatnya. Kehadirannya sebagai pemimpin di Mesir mengakibatkan rakyatnya kehilangan identitas dan semakin menjauh dari agama yang benar. Ia menganggap diri sebagai tuhan, orang-orang menyembahnya dan memperlakukan orang dengan semaunya. Kalau di belakangan hari ada pemimpin yang arogan, maka itu termasuklah ia dalam pemimpin yang membawa musibah. Ia membawa kesengsaraan saja bagi rakyatnya.

KISAH RAJA ZALIM PEMBUAT PARIT

Gurun pasir di Mesir
“Galilah parit-parit besar dan nyalakan api didalamnya! Siapa saja yang enggan keluar dari keyakinannya menyembah Allah, bakarlah hidup-hidup di dalam parit itu!” ujar sang raja geram. Ia merupakan raja pemimpin Bani Israil.
Namun kala itu Bani Israil bukan lagi para hamba Allah seperti di masa nabi Musa. Mereka diliputi kekafiran dan kemaksiatan, serta melakukan perbuatan keji yang dimurkai Allah. Lupa sudah ajaran nabiyullah Musa dan peringatan Taurat.

Hingga kemudian hiduplah seorang raja yang memimpin mereka, seorang raja yang kafir nan kejam. Raja itu menganggap dirinya sebagai Tuhan dan geram jika warganya menyembah selainnya.

Kisah bermula ketika sang raja mengutus seorang pemuda untuk mempelajari sihir. Kala itu tukang sihir kerajaan telah berusia sepuh. Dialah yang meminta raja merekrut sang pemuda untuk menggantikan dirinya bertugas menjadi “penasihat” kerajaan.

“Sungguh saya telah tua, maka carilah seorang pemuda yang akan saya ajarkan sihir,” pinta si tukang sihir pada raja. Raja pun menyanggupi dan segera menugaskan pemuda belia untuk belajar sihir pada tukang sihir tersebut.

Maka berangkatlah si pemuda menuju kediaman tukang sihir untuk segera mendapatkan ilmu-ilmu hitam darinya. Namun ditengah jalan, ia justru bertemu seorang Rahib Yahudi yang beriman dan bertakwa pada Allah. Sang rahib tengah memberikan pelajaran agama dalam sebuah perkumpulan kecil.
Di tengah kacau balaunya agama bani Israil, masih hidup rahib yang terus mengagungkan asma Allah. Si pemuda pun tertarik padanya. Bukan melanjutkan perjalanan, ia justru memilih duduk dalam majelis si rahib.

Setelah pelajaran sang rahib usai, barulah si pemuda melanjutkan perjalanannya. Begitu tiba di tempat si tukang sihir, tentu si pemuda mendapat murka penyihir. Apalagi setelah mengatakan hal yang membuatnya terlambat yakni majelis sang rahib.

Mendengarnya, si tukang sihir langsung memukul si pemuda. Sekembalinya dari rumah penyihir, pemuda itu pun mengadu hal yang menimpa dirinya pada sang rahib. Lalu sang rahib pun menasihatinya untuk tak lagi menemui tukang sihir.

“Jika kau takut pada tukang sihir, maka katakanlah padanya bahwa kau tak bisa pergi menemuinya karena ditahan oleh keluargamu. Jika kau takut pada keluargamu, maka katakan pada mereka bahwa kau ditahan oleh tukang sihir itu,” nasihat si rahib. Kebimbangan pun kemudian melanda si pemuda.

Ia bukanlah seorang yang shalih namun bukan pula seorang pelaku maksiat. Ia tak bisa memutuskan apakah harus menuruti kata rahib ataukah mematuhi tukang sihir. Sementara ia merupakan utusan kepercayaan raja sang penguasa negeri. Meski ia lebih percaya pada rahib, namun keputusan tersebut tentu bukanlah perkara mudah.
Dalam kondisi kebimbangan tersebut, sang pemuda yang tengah merenung didatangi seekor binatang raksasa. Binatang tersebut kemudian mengganggu sekumpulan orang yang tengah melakukan safar. Melihatnya, sang pemuda merasa harus menyelamatkan mereka.

Ia pun kemudian berkata, “Hari ini saya akan tahu, siapakah yang lebih utama, si tukang sihir ataukah sang rahib,” ujarnya seraya memungut sebongkah batu. Dengan keimanannya pada Allah, tuhan semesta alam, ia pun memohon bantuanNya.

“Ya Allah, jikalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu,” doa si pemuda. Ia pun kemudian melempar batu itu ke arah hewan raksasa itu.

Matilah hewan buas itu. Para musafir selamat dan melanjutkan perjalanannya. Namun yang terpenting, si pemuda mendapati kepastian bahwa jalan si rahib lah yang benar dan ridhai Allah.

Pemuda itu pun bersegera menemui sang rahib untuk berguru. Ia mengisahkan pengalamannya melawan hewan raksasa. Si rahib pun melihatnya sebagai keutamaan si pemuda atas anugerah Allah.

“Wahai anakku, hari ini kau lebih utama dariku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap jauh yang kulihat sekarang ini. Sungguh kau pasti akan menerima cobaan, maka apabila cobaan itu menimpamu, janganlah kau menujuk diriku,” pesan sang rahib.

Nyata, Allah telah memberikan keutamaan pada si pemuda. Tak lama, pemuda tersebut mejadi seorang shalih yang muia. Ia memiliki beragam kemampuan atas rahmat Allah. Ia mampu mengobati orang yang buta, sopak dan penyakit lain. Tak sedikit warga yang disembuhkan oleh pemuda. Namanya pun sontak terkenal di seluruh penjuru negeri.

Kabar kemampuan luar biasa pemuda itu pun sampai ke istana. Seorang teman raja yang menderita buta kemudian menemui sang pemuda. Ia membawa banyak hadiah bagi si pemuda agar dapat menyembuhkan buta matanya. “Semua hadiah yang saya bawa ini untumu, jika kau dapat menyembuhkan saya dari buta,” ujarnya.
Sang pemuda pun menimpali ringan, “Sesungguhhnya saya tidak dapat menyembuhkan apapun. Namun yang menyembuhkan itu adalah Allah. Jika kau beriman kepada Allah, maka aku doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu”.

Teman raja itu pun kemudian beriman kepada Allah. Penyakitnya lalu diangkat oleh Allah atas rahmat dan kekuasaanNya. Dengan mata yang dapat melihat kembali, ia pun begitu bergembira kemudian menemui sang raja. “Siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?” tanya sanga raja terkejut melihat temannya yang buta tiba-tiba dapat melihat normal.

“Tuhanku,” jawab teman raja. Geramlah sang raja mendengsr jawaban temannya, “Apa kau punya tuhan selain aku?!” seru raja. “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah,” jawab temannya beriman. Namun sang raja dengan keangkuhannya kemudian menyeret temannya ke penjara. Ia disiksa karena beriman kepada Allah.

Tak sebatas itu, sang raja masih menelusuri siapakah gerangan yang menyembuhkan temannya, siapakah gerangan yang menyembah Allah. Kemampuan sang pemuda pun sampai ke telinga raja. Ia pun memanggilnya dan tersentak karena si pemuda itu ternyata bukan lain adalah calon tukang sihir kerajaan yang pernah ia utus.
Awalnya sang raja pun girang karena menyangka kemampuan si pemuda merupakan hasil pembelajaran sihir. “Wahai pemuda, telah sampai padaku kabar kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta dan cacat. Kamu juga melakukan ini dan itu,” kata sang raja girang.  Namun kegembiraan sang raja dalam waktu singkat berubah menjadi angkara murka ketika mendapati si pemuda merupakaan hamba Allah yang taat. Sang pemuda dianggap berkhianat dan menentang sang raja.

“Sungguh saya tidak dapat menyembuhkan apapun. Yang menyembuhkan itu semua adalah Allah Ta’ala,” ujar si pemuda. Maka raja pun segera menyuruh pengawal untuk menangkap si pemuda dan menyiksanya.
Hingga kemudian raja mendapati kabar sang rahib yang menjadi guru si pemuda. Maka sang rahib pun ditangkap dan dibawa kehadapan raja. “Keluarlah dari agamamu!” titah raja geram. Tentu sang rahib enggan menurutinya. Raja pun kemudian mengeluarkan perintah untuk menggergaji tubuh si rahib. Maka terbelahlah tubuh si rahib menjadi dua.

Setelah menghukum sang rahib, giliran si pemuda yang mendapati hukuman mati. Sama seperti si rahib, si pemuda pun diminta meninggalkan keimanannya pada Allah. Namun si pemuda menolak. Sang raja pun segera memberikan perintah kepada prajuritnya, “Bawalah pemuda ini ke gunung, bawalah ke puncaknya. Jika ia melepas keyakinannya maka bawa ia pulang. Jika ia tetap enggan, maka lemparkan ia dari puncak gunung,” kata Raja.

Hukuman pun dijalankan. Si pemuda hanya dapat menerima cobaan keimanannya dengan berserah diri pada Allah. Ia pun terus berdoa kepada Allah agar menyelamatkannya. Mengejutkan, saat prajurit raja membawanya ke puncak, Allah menggetarkan gunung hingga terpelantinglah pasukan sang raja. Adapun si pemuda itu selamat kemudian berjalan pulang menemui raja.

“Apa yang kau lakukan pada prajuritku?!” seru raja terkejut melihat si pemuda masih hidup. “Allah menyelamatkanku dari mereka,” jawab si pemuda.
Makin geramlah amarah raja. Ia kemudian meminta prajuritnya yang lain untuk menenggelamkan si pemuda di tengah laut. Namun hal serupa pun terjadi sama seperti hukuman sebelumnya. Allah menyelamatkan si pemuda, ia pun kembali menghadap raja menunjukkan kekusaan Allah. Sang raja keji itu pun tak habis pikir dengan keajaiban si pemuda, namun ia tetap angkuh dan enggan mengimaninya.

“Sungguh kau tak akan dapat membunuhku sampai kau melakukan apa yang kuperintahkan,” kata si pemuda. “Apa itu?” tanya raja yang sudah kehilangan cara untuk membunuh si pemuda.
“Kumpulkanlah seluruh manusia di sebuah tempat, saliblah aku di sebatang pohon, kemudian ambil sebusur panah dari kantong panahku. Ucpkanlah “Bismillah Rabbil Ghulam, Dengan nama Allah, Rabb si pemuda” sebelum kau menembakku dengan busur itu. Jika kau melakukannya, niscaya kau dapat embunuhku,” ujar si pemuda tenang.

Sang raja pun melakukan apa yang dikatakan si pemuda. Ia pun mengucapkan “Bismillah Rabbil Ghulam” disaksikan seluruh rakyatnya. Si pemuda mati syahid setelah busur panah mengenai pelipisnya. Sang raja girang. Namun ia tak tahu, bahwa setelah peristiwa eksekusi si pemuda, rakyatnya kemudian berbondong-bondong mengimani tuhan si pemuda, Allah Ta’ala.

Raja keji itu tak menyadari keimanan rakyatnya. Hingga kemudian beberapa pengikutnya mengabarkan hal tersebut. “Apa Tuanku telah melihat, yang telah dikhawatirkan selama ini telah terjadi, demi tuhan telah terjadi, banyak orang telah berian kepada Allah,” ujarnya. Sontak, memuncaklah amarah sang raja.
Ia pun segera memerintahkan hukuman bagi siapa saja rakyatnya yang beriman kepada Allah. “Galilah parit-parit besar dan nyalakan api didalamnya! Siapa saja yang enggan keluar dari keyakinannya menyembah Allah, bakarlah hidup-hidup di dalam parit itu!” ujar sang raja geram.

Maka diseretlah semua penduduk Muslimin di negeri itu. Tanpa gentar, mereka menghadapi ujian Allah. Tak ada dari mereka yang melepaskan keimanan mereka hanya karena ancaman sang raja. Maka dibakarlah seluruh muslimin yang jumlahnya tak sedikit di dalam parit itu. Salah satu warga yang dihukum raja ialah seorang wanita yang menggendong bayinya. Saat melihat api menyambar dari dalam parit, si wanita sempat merasa takut dan terus mundur.

Namun jkemudian si bayi berkata pada ibunya, “Wahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau diatas kebenaran,” ujar si bayi menunjukkan kekuasaan Allah. Maka si ibu bersama bayinya pun meraih syahid menuju rahmat Allah yang luas. Demikian pula seluruh muslimin di negeri kuasa sang raja yang zalim.
Kisah diatas terdapat dalam Alquran surah Al Buruj ayat 1 hingga 10. Allah mengisahkannya dalam firmanNya sebagai pelajaran bagi umat manusia. Kisah ini juga pernah dikabarkan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan imam Muslim. Kisah lengkap sebagaimana dalam hadits Rasul terdapat dalam Kitab Az-Zuhd war Raqa’iq dalam Bab Qisah Ashabil Ukhdud. Silahkan merujuk kembali.

Tentu setiap kisah mengandung banyak hikmah yang menjadi pelajaran bagi umat sesudahnya. Dalam kisah ini, didapati bagaimana menghadapi ujian dan cobaan dengan kesabaran. Setiap muslimin tentu tak lepas dari ujian dan cobaan hidup. Menghadapinya, muslimin hanya perlu bersabar dan istiqomah dalam beriman kepadaNya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 214, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

“Maka diseretlah semua penduduk Muslimin di negeri itu. Tanpa gentar, mereka menghadapi ujian Allah. Tak ada dari mereka yang melepaskan keimanan mereka hanya karena ancaman sang raja. Maka dibakarlah seluruh muslimin yang jumlahnya tak sedikit di dalam parit itu. Salah satu warga yang dihukum raja ialah seorang waita yang menggendong bayinya. Saat melihat api menyambar dari dalam parit, si wanita sempat merasa takut dan terus mundur.

Namun kemudian si bayi berkata pada ibunya, “Wahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau diatas kebenaran,” ujar si bayi menunjukkan kekuasaan Allah. Maka si ibu bersama bayinya pun meraih syahid menuju rahmat Allah yang luas. Demikian pula seluruh muslimin di negeri kuasa sang raja yang zalim.
Kisah diatas terdapat dalam Alquran surah Al Buruj ayat 1 hingga 10. Allah mengisahkannya dalam firmanNya sebagai pelajaran bagi umat manusia. Kisah ini juga pernah dikabarkan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan imam Muslim. Kisah lengkap sebagaimana dalam hadits Rasul terdapat dalam Kitab Az-Zuhd war Raqa’iq dalam Bab Qisah Ashabil Ukhdud. Silahkan merujuk kembali.

Tentu setiap kisah mengandung banyak hikmah yang menjadi pelajaran bagi umat sesudahnya. Dalam kisah ini, didapati bagaimana menghadapi ujian dan cobaan dengan kesabaran. Setiap muslimin tentu tak lepas dari ujian dan cobaan hidup. Menghadapinya, muslimin hanya perlu bersabar dan istiqomah dalam beriman kepadaNya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 214, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Sumber – rifqiabqoryn99

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *